Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

LAPAN: 'Crop Circle' di Sleman Murni Buatan Manusia

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memastikan fenomena terbentuknya Crop Circle, di lahan persawahan dusun Rejosari, Sleman, Yogyakarta adalah murni buatan manusia.
Berdasarkan hasil penelitian LAPAN di lokasi Crop Circle, ditemukan satu berukuran 25 cm, yang diduga pusat pembuatan pola Crop Circle  dengan menggunakan Metode Jangkar. LAPAN juga tidak menemukan radiasi atau benda terbakar yang selama ini diduga warga, crop circle itu merupakan tempat pendaratan UFO.
“Ditemukan padi yang tercabut sampai akarnya untuk sengaja menghilangkan jejak pembuatannya, “ kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains LAPAN, Sri Kaloka, Sleman, Selasa (25/1).
Guna mengantisipasi terjadinya kerusakan padi di sekitar lokasi tersebut, hingga kini lokasi Crop Circle masih dijaga oleh petugas dari Polres Sleman DIY. (tvone.co.id)

Kamis, 02 Desember 2010

PERANG CDMA - GSM

Ditjen Postel Kementerian Kominfo akan segera memberlakukan satu lisensi seluruh layanan melalui skema unified access licensing (UAL). Dengan demikian, tak ada lagi perbedaan antara fixed wireless access (FWA) yang digunakan oleh CDMA dan seluler via GSM. Setelah CDMA bisa dipakai secara nasional, apakah tarif GSM akan terdorong turun?
Saat ini, Indonesia memiliki empat operator dengan lisensi FWA, yakni Telkom dengan Flexi, Mobile-8 Telecom dengan Hepi, Indosat lewat StarOne dan Bakrie Telecom (BTEL) dengan Esia.
Pada dasarnya, baik operator yang menggunakan FWA dan seluler, tidak ada perbedaan secara teknis karena semua layanan adalah seluler. Lisensi FWA untuk CDMA dengan wilayah layanan yang terbatas. Pemberlakuan lisensi FWA itu dinilai sebagai banci.
“Sayangnya, ini aturan banci karena CDMA memiliki teknologi yang sama yang memungkinkan mereka untuk seluler tapi dibatasi regulasi,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala saat dihubungi INILAH.COM.
“Awalnya operator besar meminta CDMA terbatas di area tertentu. Kemudian ada GoGo yang memungkinkan CDMA berlaku seperti seluler. Operator GSM makanya minta disamakan jadi satu lisensi,” kata Kamilov lagi.
Hal senada juga diungkapkan Sekjen Indonesia Telecommunications Users Group (IDTUG) Muhammad Jumadi. Menurutnya, perang antar GSM dan CDMA saat ini sudah tidak sehat padahal CDMA yang memegang lisensi FWA sudah bisa seluler. CDMA, di sisi lain dikenai biaya hak penggunaan (BHP) lebih murah dibandingkan GSM.
“FWA dapat keuntungan mobile tetapi tidak dikenai BHP yang sama dengan GSM, ini merugikan. Jika pemerintah memberlakukan sama, paling tidak tarif GSM harus sama atau lebih murah dari CDMA. BHP mereka kan ikut turun,” kata Jumadi. Dampak positifnya perang tarif secara negatif dapat diminimalisir karena masyarakat lebih mudah paham, soal tarif antara operator GSM dan CDMA.
Namun Kamilov tidak terlalu yakin operator GSM akan menurunkan harga jika nantinya layanan operator CDMA dengan lisensi FWA sudah bisa dipakai secara nasional. Menurutnya, akan ada garis tengah berupa kompromi antaroperator.
Hal itu diamini Direktur Eksekutif Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Eddy Thoyib. Ia tidak yakin bahwa operator GSM akan langsung menurunkan harga setelah lisensi FWA jadi selular diberlakukan.
“Harga terkait sewa badwidth karena ini tergantung pada usage base operator itu. Di sisi lain, pemerintah masih mengkaji tarif bandwidth. Jadi belum tentu lisensi sama langsung harga disamakan pula,” katanya.
Penyamaan lisensi juga semakin meningkatkan isu merger antaroperator. Ini dinilai wajar sebagai bagian dari seleksi alam dalam mengurangi jumlah operator, namun meningkatkan frekuensi. Apalagi, dibandingkan negara lain di Asia, jumlah operator di Indonesia terlalu banyak.
Meskipun penyamaan lisensi memungkinkan harga seluler turun, tapi dikhawatirkan adanya pengurangan kualitas. Menurut Jumadi, operator GSM terpaksa menurunkan harga yang seringkali berdasarkan pengalaman malah mempengaruhi kualitas. Lebih disayangkan lagi pemerintah tidak ketat dalam mengawasi kinerja operator.
“Makanya sekarang operator seperti angkot yang memenuhi jalan. Pada akhirnya malah mengganggu masyarakat,” sindir Jumadi.
Hal senada juga diungkapkan Kamilov. Menurutnya, badan regulasi masih lemah sehingga operator bisa berbuat seenaknya. Bahkan, Eddy Thoyib pesimis perubahan lisensi ini akan membawa perbaikan kualitas jaringan operator. Kualitas pada dasarnya terkait investasi di mana operator harus meningkatkan kapasitas dan cakupan jaringan.
“Lisensi adalah satu hal yang berbeda dengan kualitas. Kualitas bisanya ditentukan oleh penambahan jaringan dan cakupan. Kita membutuhkan layanan prima,” tegasnya.
Jumadi juga menyayangkan pemerintah yang selalu membuat aturan berdasarkan perkembangan teknologi. Padahal, teknologi sendiri tidak ada batasnya. “Seharusnya bukan teknologi yang jadi patokan melainkan frekuensi. Teknologi tidak terbatas jadi sulit untuk membuat aturan yang berlaku selamanya,” ujarnya. (esqnews)

Senin, 01 November 2010

Bosan dengan Google? Coba Blekko

Silicon Valley kecil yang didukung sejumlah nama besar telah meluncurkan versi beta sebuah mesin pencari baru dan perusahaan itu mengatakan memiliki ramuan utama yang tidak dipunyai Google, yakni sentuhan kemanusiaan.

Nama perusahaan itu dan mesin pencarinya adalah Blekko. Blekko mengatakan, Web sudah semakin jenuh dengan situs-situs seperti spam, khususnya yang dirancang untuk muncul (pop up) di hasil pencarian Google, tapi isinya lebih banyak kampanye pemasaran dibanding informasi substantif.

"Obat" ini, kata Chief Executive Blekko Kaya Skrenta kepada Reuters, adalah untuk mempersempit pencarian kelompok website yang orang, bukan komputer, sudah percaya sebagai sumber informasi terbaik untuk topik-topik tertentu.

Pendekatan ini jelas kuno dalam sebuah industri dimana algoritma komputer yang dikembangkan oleh insiyur Google dan Microsoft sudah bertahun-tahun dianggap sebagai cara ideal untuk menemukan informasi dalam lautan data online.

Blekko telah menginvestasikan 24 juta dolar pada produk yang dikembangkan dalam tiga tahun terakhir itu, dengan investor ternama termasuk Marc andreessen, pencipta browser web pertama, dan Ron Conway yang telah menanamkan modalnya di perusahaan teknologi diantaranya Twitter, Foursquare, bahkan Google.

Blekko masuk dalam daftar panjang mesin pencari yang berusaha menyamai bisnis Google, dengan rekam jejak kurang cemerlang. Cuil, mesin pencari high-profile yang diluncurkan oleh mantan karyawan Google pada 2008, diam-diam ditutup pada bulan September lalu.

Kemudian Powerset, sebuah mesin pencari yang membiarkan orang-orang mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris, diakusisi Microsoft pada 2008 juga.

Greg Sterling, seorang konsultan Internet dan editor untuk blog Search Engine Land online, mengaku tidak berharap bahwa Blekko akan menggantikan Google dalam waktu dekat.

Namun, ia mengatakan, Blekko telah mengembangkan pendekatan kreatif untuk pencarian yang mungkin menjadi populer sebagai mesin pencari sekunder untuk beberapa jenis query.

Blekko diluncurkan dengan website direktori khusus yang menawarkan hasil pencarian bebas spam untuk tujuh kategori pencarian umum; kesehatan, resep, lirik lagu, hotel, otomotif, perguruan tinggi, dan keuangan pribadi.

Blekko juga memungkinkan pengguna untuk membuat direktori pribadi website untuk topik tertentu, sehingga mesin pencari hanya mencari informasi dari sumber-sumber yang dianggap pengguna relevan dan dapat dipercaya.

Selain pendiri dan CEO Topix yang juga pernah kerja untuk AOL, Rich Skrenta, nama-nama besar lain dibalik Blekko diantaranya rekan Rich di Topix, Michael Markson, kemudian Tom Annau yang empat tahun bersama Google dalam 10 proyek berbeda bidang pencarian web dan periklanan online.

Lalu ada Greg Lindahl dari PathScale, yang mengarsiteki InfiniBand HCA, yang digunakan untuk membangun klaster super-komputer. PathScale sukses menjual QLogic pada 2006.

Blekko juga menempatkan Keith Peters sebagai kepala arsitek. Keith bergabung dengan Netscape/AOL pada 2000, dan selanjutnya bekerja pada teknologi search di divisi E-Commerce dan musik AOL.

Direktur Operasi Blekko dijabat Chuck McManis, yang berpengalaman empat tahun bersama Google dan lima tahun di NetApp.

Minggu, 31 Oktober 2010

Robot Edukasi Tampil di MTF

Robot edukasi (cyber logic) tampil di pameran Makassar Toys Fair (MTF) 2010 di Makassar, 29-30 Oktober 2010.

Robot edukasi ini ambil bagian dengan memamerkan kebolehan-kebolehan robot yang dapat digunakan oleh anak-anak sebagai sarana belajar sambil bermain. Tidak hanya anak-anak bahkan orang dewasa pun dapat memainkannya, kata Koordinator Cyber logic, Muh Ikbal di Makassar, Jumat.

Salah satu yang menarik pengunjung dalam pameran MTF adalah adanya robot-robot yang dapat dikendalikan remote yang merupakan robot sebagai sarana belajar. Robot-robot ini adalah karya cyber logic yang dibentuk Dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Crhistoforus yang merupakan salah satu pembimbing robot sejat tahun 2003 hingga sekarang.

Cyber logic terbentuk sejak Juni 2008. Pembentukan cyber logic dengan melihat pekembangan di luar Makassar yaitu di Jawa anak SD telah dapat bermain robot sedangkan di Makassar hanya mahasiswa yang bermain robot, dan bagi anak-anak permainan robot dianggap susah.

Untuk memperkenalkan robot maka dibentuklah Cyber logic, kata Ikbal.

Diharapkan dengan adanya cyber logic anak-anak tidak lagi merasa malas untuk belajar tetapi merasa sedang bermain ketika belajar sehingga cyber logic memberikan kata "let`s play robot" pada saung mereka di pameran MTF untuk memancing minat anak-anak belajar sambil bermain robot edukasi sehingga robot akan lebih dikenal. Pada pameran MTF ini juga cyber logic mengadakan lomba robot.

Cyber logic juga memberikan support exschool robotic di beberapa sekolah seperti salah satunya di SD Rajawali yang telah memenangkan lomba robot di Surabaya Juli 2010. Dengan begitu diharapkan di Makassar akan banyak club-club robot anak-anak katanya. (Antaranews.com)

Kamis, 28 Oktober 2010

Kementerian ESDM Luncurkan Film Kepahlawanan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan film dokumenter mengenai kisah kepahlawanan Ari dan Soenoe, dua pemuda yang tercatat sebagai tokoh peletak dasar lembaga geologi dan pertambangan di Indonesia.

"Peran mereka berdua menjadi mata rantai penting dalam sejarah Indonesia merdeka, yang dimiliki sektor pertambangan dan energi di Indonesia," kata Menteri ESDM Darwin Z Saleh kepada wartawan di Jakarta, kemarin.
Darwin menjelaskan, film dokumenter untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda itu bercerita tentang pemuda dan kepahlawanan di negeri ini yang seperti tidak ada habisnya.

"Mungkin saja banyak di antara kita tidak kenal tentang dua pemuda bernama lengkap Arie Frederick Lasut dan Soenoe Soemosoesastro itu. Namun mereka adalah pemuda yang banyak jasanya, antara lain menyusun dan menyelamatkan dokumen penting tentang data-data mengenai tambang dan geologi Indonesia," katanya mengenang kepahlawanan mereka.

Menurut dia, film dokumenter ini bukan sekadar film perjuangan, tetapi film tentang kehidupan yang asli. "Supaya bangsa ini mengetahui bahwa Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam itu juga memiliki pahlawan dengan episode tentang kemineralan," katanya. Mereka, ujarnya lagi, bisa memberikan inspirasi kepada kaum muda di negeri ini.

Kisahnya bermula dari upaya penjajah yang ingin mengeksploitasi kekayaan alam di negeri ini. Penjajah Belanda sadar betul akan pentingnya penguasaan informasi tentang bahan tambang dan mineral yang terkandung di bumi nusantara. Maka seluruh data dan informasi di bidang geologi dan pertambangan secara eksklusif dikuasai oleh Belanda.

Karena itu, tak heran kalau tidak ada satupun tenaga dari golongan pribumi yang memiliki kesempatan untuk menjadi tenaga ahli di bidang pertambangan. Tenaga pribumi waktu itu yang paling tinggi adalah sebagai mantri atau opnemer yang menjadi tulang punggung pekerjaan di lapangan. Selebihnya, dalam hal pekerjaan di pertambangan, tenaga ahlinya dikuasai bangsa penjajah.

Menjelang Perang Dunia II, Pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan kepada pribumi untuk mengikuti Kursus Asisten Geologi di Bandung, yang lulusannya langsung bekerja di Dienst van den Mijnbouw (Dinas Pertambangan ketika itu). Beruntung ada dua siswa bumiputera terjaring mengikuti kursus tersebut, yaitu Arie Frederick Lasut dan Soenoe Soemosoesastro.

Arie dan Soenoe menyelesaikan pendidikan pada tahun 1941. Mereka langsung diangkat menjadi pegawai di lingkungan Dienst van den Mijnbouw yang tugasnya membantu para ahli geologi di lapangan. Belum lama Arie dan Soenoe bekerja, pada tahun 1942 Jepang menduduki Nusantara. Keberadaan Dienst van den Mijnbouw

pun berakhir, dan diubah oleh Pemerintah Jepang menjadi menjadi Chishitsuchosacho. Pemuda Arie dan Soenoe melanjutkan pekerjaan di lembaga yang telah dikuasai Jepang itu.

Ketika Indonesia merdeka, terjadi pengambilalihan kantor Chishitsuchosacho oleh Pemuda Indonesia termasuk Arie dan Soenoe, dan menggantikan Chishitsuchosacho menjadi Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Arie diserahi tugas menjadi Kepala Djawatan dan Soenoe sebagai wakilnya.

Agresi Belanda yang membonceng Pasukan Sekutu pada awal kemerdekaan berniat menguasai kembali kantor PDTG. Namun berkat perjuangan yang gigih dari Arie dan Soenoe ? bersama rekan sejawatnya ? PDTG tetap mereka pertahankan sampai "tetes darah terakhir". Mereka gigih menyelamatkan dokumen geologi dan tambang Indonesia dari incaran pasukan Belanda.

Desakan tentara Belanda membuat Arie dan kawan kawan mengungsi dengan membawa dokumen-dokumen penting itu berpindah-pindah tempat dari kantor PDTG di Rembrandt Straat (sekarang Jalan Diponegoro) ke Jalan Braga di Bandung, lalu mengungsi ke Tasikmalaya, lari ke Magelang hingga ke Yogyakarta, sebelum akhirnya kembali lagi ke Bandung.

Ketika dalam pengungsian di Magelang dan Yogyakarta, pada tahun 1946 Arie dan Soenoe mendirikan sekolah untuk mendidik para calon mantri geologi. Ketika itu mereka tahu bahwa masih sedikit orang Indonesia yang memiliki keahlian di bidang geologi dan tambang. Mereka juga memprakarsai pembukaan cabang PDTG di Bukittinggi, dan sempat memimpin penyelidikan geologi di beberapa tempat di Indonesia.

Karena pengetahuannya tentang pertambangan dan geologi di Indonesia dan usaha keras Arie dalam mempertahankan dokumen pertambangan serta karakter yang tidak mengenal kompromi menjadikan Arie sebagai incaran pihak Belanda. Sementara Soenoe memelopori pengalihan istilah untuk pertambangan dan geologi dari Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Indonesia.

Menteri Darwin menegaskan bahwa film ini perlu ditonton oleh generasi muda sekarang sehingga mereka akan bersyukur telah dilahirkan di bumi Indonesia, tanah yang telah melahirkan tokoh-tokoh berdedikasi untuk bangsa, tidak untuk suku atau golongan. "Perjuangan dua pemuda itu merupakan legenda hidup yang sebenarnya. They are truly living legend," katanya.

Sejarah membuktikan bahwa Indonesia adalah negeri yang terlahir dalam sosok yang sangat beragam, baik suku, agama, maupun budaya, ujar Darwin.(antaranews.com)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons